Kamis, 23 Agustus 2018

Hari Cerah


Langkah setapak
Kakipun berpijak
Waktu tak kan terelak
Tanahpun mulai berjejak

            Berjalan sesuai alur
            Asa tak pernah terukur
            Batu itu terjal, tak seperti kasur
            Hidup itu susah, tak seenak mendengkur

Hari ini hari yang cerah
Teruslah menari dengan tinta yang indah
Di atas garis kertas yang mulai terarah
Untukmu, Selamat ulang tahun Farah

Rabu, 23 Agustus 2017

Teruntuk Kamu

Di ujung senja
Di tengah hamparan mega
Pena itu menari seirama
Menyisakan goresan penuh makna

   Kadangkala goresannya seperti peluru
   Yang bermain-main di kepalaku
   Tutup sedikit kepalamu
   Atau mereka menembus dadamu

Hari ini ada yang berbeda
Dua puluh tiga yang tak biasa
Bunga itu mulai mekar memancarkan pesona
Pesona yang berlanjut di tahun-tahun berikutnya

   Sekarang kau di anak tangga yang baru
   Gapailah angan dan citamu
   Aku di sini selalu di sampingmu
   Selamat ulang tahun sayangku

Rabu, 14 Desember 2016

Selamat Pagi

Pagi itu,
Matahari pun belum muncul menampakkan wajahnya
Kotak kecil itupun mulai tak bersuara
Tak terdengar lagi nyanyian-nyanyian elok itu

                Ada apa dengan pagi cerahku?
                Akankah sudah hilang?
                Atau mungkin pergi?
                Ya, cuma bumi yang berputar yang aku rasakan

Detik seakan merangkak
Memperlambat jalan dan mundur ke belakang
Yang seakan enggan menemui jarum yang ada di depannya
Yang seakan tak mau melanjutkan jalannya

                Ya, Aku ini siapa?
                Cuma orang yang sering kelam matanya
                Cuma orang yang tak tahu harus jalan kemana
                Aku masih disini, dan masih terdiam tanpa suara



Selasa, 23 Agustus 2016

Hari Terbaikmu

Berlarinya sang waktu tak bisa ku hentikan
Dan tak mampu ku kendalikan lajunya
Dentang lonceng malam ini sangat berharga bagimu
Kau beranjak dewasa dan bertambah satu usiamu

Hari terbaikmu
Mewarkan pandang indah masa lalu
Yang dulu keras ditengoknya
Yang kini lembut tersapu masa

Coretan ini bukan apa-apa
Hanya kau yang bisa beri makna
Yang terbaik di dalam dada
Mampu merubah segalanya

Dua puluh tiga yang ke sekian kalinya
Namamu ada dalam doa
Jangan lelah menggapai asa
Selamat ulang tahun cinta.


Kamis, 30 Juni 2016

Kesal

Kenapa langit ikut menangis?
Bersamanya terdengar lagu
Lagu yang manis namun cukup meringis
Memancing tawa, sesekali tetesan air mata

          Entah,
          Mengapa pena ini ingin sekali menari
          Entah,
          Mengapa buku darimu ingin sekali terisi

Aku bercermin tentangmu
Aku merenung tentangmu, tentang dia
Otak ku penuh, tapi tak ada rasa
Ingin jatuh tapi ku tak bisa

          Hanya ku harap ia juga menatapmu
          Memejamkan mata, membuang yang menghitamkan mata
          Aku hanya menunggu
          Menunggu dirimu yang mulai reda

Rabu, 22 Juni 2016

Terima Kasih

Aku,
Ya ini memang diriku
Kamu,
Tak bisa ku ubah seenak ku

Aku lebih mengerti, bagaimana cara berdiri
Aku lebih mengerti, Apa yang ada dalam hati
Aku lebih tahu, karena kau ajarkan begitu

Jalan masih panjang
Kerikil, batu mungkin lebih terjal
Ketika aku lemah, Kau ajari aku lagi
Untuk tetap bersyukur dan meraih mimpi

Terima kasih
Terima kasih
Karna tetap mengijinkanku menggenggam tanganmu


Sabtu, 14 Mei 2016

Siapa yang Tahu?

Satu ya memang Satu
Tanda tanya besar?
Siapa yang tahu?
Hanya kau dan Yang Satu

Waktu jalan, Aku juga tak tahu
Berlari, berjalan, terseok?
Siapa yang tahu?
Yang ku tau sekarang kau masih milikku



                

Minggu, 23 Agustus 2015

Dua Puluh Tiga

Detik berlari tak bisa engkau kejar
Kau lalui tanpa atau dengan kau beri makna
Hari berganti tak bisa kau hentikan
Kau lalui tanpa atau dengan pedulimu

            Dua puluh tiga ke dua puluh
            Semakin bertambah sampai itu terhenti
            Tapi kedewasaan tak pasti harus menggantikan
            Dewasa adalah pilihan
            Dewasa adalah suatu kehormatan

Semoga hari ini engkau bahagia
Semakin mampu tahu kau ini siapa
Diiringi kedewasan yang semakin meraja
Serta mekarnya kecantikan di dalam dada

Selasa, 18 Agustus 2015

Ayo Kerja

Merah putih berkibar di cakrawala pagi
Indonesia raya berkumandang memekakkan telinga
Seluruh insan bergejolak gegap gempita
Meneriakkan kata MERDEKA!!!

         17 Agustus 2015
         Sudah berkepala tujuh rupanya
         Semakin renta usiamu
         Semakin berat beban di punggungmu

Proklamator pernah berkata
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi
Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”
Tujuh puluh tahun bukan usia muda

          Sudah banyak garam yang engkau telan
          Sudah banyak projectile  yang kau rasakan
          70 tahun Indonesia Merdeka, Ayo Kerja
          Akankah hanya tulisan belaka?

                

Senin, 18 Agustus 2014

Kau Sekarang

Ah sudah tua rupanya
Tapi apa yang sekarang kurasakan?
Semakin hebat kah?
Atau, malah sebaliknya?

    Ya, 69 tahun usiamu
    Akankah kau samakan dengan usia
         manusia?
    Semakin tua semakin lemah?
    Semakin tua semakin renta?

Negriku yang kucintai
Semangatmu merupakan titik awal bagiku
Ku tak rela sesuatu yang buruk terjadi padamu
Berani dan suci membentang di cakrawalamu

          Ya, sekarang kau punya nahkoda yang baru
          Awak kapal yang baru
          Semangatmu, cinta tanah airku mengalir deras di nadiku
          Izinkan aku turut mengabdi padamu

Rabu, 29 Mei 2013

Parah

Mulut, ya semua orang punya itu. Tangan, ya... semua orang juga punya
Terus apa bedanya kau dengan mereka?
Katanya manusia itu sempurna, tapi apa nyatanya?
Mulut cuma untuk bicara-bicara hal yang tak berguna

           Mulut cuma untuk menggoreskan luka
           Ya, Diamlah itu lebih baik,
           Mengendapkan tetesan-tetesan darah dalam dada
           Menutup paksa semua luka yang ada

Semua itu memang tak berguna, Hanya buang-buang waktu saja
Memang, tulisanku tak bermakna
Tapi ini semua kuanggap karya paling sederhana
Hanya coretan-coretan luka yang menggerakkan pena
Membuahkan karya sastra walau hanya sekejap mata

Senin, 18 Februari 2013

Tetesan Air Mata

Duri tajam berlari di atas luka, mengorek-ngorek sisa asa yang ada
Mengalir darah segar menyilaukan mata, memerahkan hangatnya sukma
Diam, hanya diam yang ku lakukan, menatap sayu seperti tanpa dosa
Memalingkan wajah tanda putus asa. menutup hinanya mata

       Terdiam, terpaku tak berdaya
       Tetesan-tetesan darah itu
       Memberimu arti, arti bahwa rasa itu ada
       Rasa yang memuncak penuh makna menggenggam seisi dunia yang fana

Berdiri tegap bahwa aku bisa
Ya.. Mulutmu itu memang tajam
Bagaikan pedang sang pujangga
Tapi semua itu tak terasa karena aku adalah juara

Sabtu, 22 Desember 2012

Seberkas Cahaya

Terbujur kaku tak berdaya
Semua hitam, kelam dan hampa
Sesak kosong tak ada udara, terhalang oleh batu tak bermassa
Titik kecil di ujung kalbu terang benderang seperti cahaya

        Cahaya kecil tapi sangat bermakna
        Walau tak terlihat oleh mata
        Titik yang ada tapi tak tiada

Mata sayuku pun mulai menganga menatapnya
Terbuka lebar menganga tak berdosa
Tapi tak ada satupun yang peka terhadapnya

Selasa, 24 Juli 2012

Lembaran Baru

Bunga mawar berduri namun tetap mempesona
Tapi sayang, ia gugur tak pada waktunya
Bunga tetap gugur walau di musim semi
Mulai menghitam dan tak berbau lagi

          Aku ingat betul hari itu...
          Saat warna merah melukis khatulistiwaku
          Dan hijaunya alam menghias kalbuku
          Aku tak bisa berkata hanya diam membisu

Mungkin hanya sajak bernada
Bukan lagi coretan tinta
Yang menghiasi kertas putih milikku

Rabu, 13 Juni 2012

Lenyap

Cahaya itu redup lagi
Cahaya yang sudah lama bersinar terang
Telang hilang dari mataku
Dan mulai tergantikan

       Warna itu mulai kelam
       Dan terdiam tanpa kata
       Jam dinding pun tak lagi berdetak
       Hilang, lenyap tak tersisa

Kertas itupun memutih lagi
Coretan-coretan tinta mulai memudar
Menunggu tinta itu menari lagi,
Di atas kertas putihku

Sabtu, 13 Maret 2010

Cah Angon



Alang-alang iki, alang-alang wingi
Wit blimbing tansah mawarna
Kali-kali tansah bening
Rungkut ngrembuyung prawan
Nanging galeng sawah iki
Menggak-menggok lan menggok
Tumuju pungkruk biru
Panggonan kebo nantang srengenge

Cah angon mbakari telo
Anyul, tatembangan
Terus meneng cep
Ngelingake godhong kuning rontog
Gawang-gawang kang Paimin, welas asih
Putrane pak Lurah kang sekolah ing kutha
Jerene ingin dadi insinyur pertanian
Ngganti luku sapi, karo traktor gawean dhewe
Ngganti lesung alu, karo mesin slep
Nemoake bibit pari unggul
Ben bisa panen ping pat
Mbuh apa maneh

Nanging aku,
Kaya kebo-sapi tuwa
Ora ngerti apa-apa
Apa maneh kahanan ndonya
- apa rudhal iku
- apa iku teror
- apa nuklir iku
- apa iku komputer
Aku krungu samar-samar, saka lik Parto
Kang sregep maca koran lan dheleng ti-pi
Aku kedlarung ?

Ah semangatku isih mili kaya banyu kali
Aku bakal sinau karo kang Paimin, yen bali saka kutha
Sinau ngeja aksara
Sinau maca angka

Ya pengin nulis selarik ukara
Kanggo kang Paimin
Kanggo kuninge sawah, sapi kebo
Kanggo bapak simbok
Kanggo sapa maneh, ya ?
O, aku ora lali
Kanggo Tumirah, kang kenes lan marak ati
 
Copyright 2009 Sulthony. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemesfree