Sabtu, 14 Mei 2016

Siapa yang Tahu?

Satu ya memang Satu
Tanda tanya besar?
Siapa yang tahu?
Hanya kau dan Yang Satu

Waktu jalan, Aku juga tak tahu
Berlari, berjalan, terseok?
Siapa yang tahu?
Yang ku tau sekarang kau masih milikku



                

Minggu, 23 Agustus 2015

Dua Puluh Tiga

Detik berlari tak bisa engkau kejar
Kau lalui tanpa atau dengan kau beri makna
Hari berganti tak bisa kau hentikan
Kau lalui tanpa atau dengan pedulimu

            Dua puluh tiga ke dua puluh
            Semakin bertambah sampai itu terhenti
            Tapi kedewasaan tak pasti harus menggantikan
            Dewasa adalah pilihan
            Dewasa adalah suatu kehormatan

Semoga hari ini engkau bahagia
Semakin mampu tahu kau ini siapa
Diiringi kedewasan yang semakin meraja
Serta mekarnya kecantikan di dalam dada

Selasa, 18 Agustus 2015

Ayo Kerja

Merah putih berkibar di cakrawala pagi
Indonesia raya berkumandang memekakkan telinga
Seluruh insan bergejolak gegap gempita
Meneriakkan kata MERDEKA!!!

         17 Agustus 2015
         Sudah berkepala tujuh rupanya
         Semakin renta usiamu
         Semakin berat beban di punggungmu

Proklamator pernah berkata
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi
Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”
Tujuh puluh tahun bukan usia muda

          Sudah banyak garam yang engkau telan
          Sudah banyak projectile  yang kau rasakan
          70 tahun Indonesia Merdeka, Ayo Kerja
          Akankah hanya tulisan belaka?

                

Senin, 18 Agustus 2014

Kau Sekarang

Ah sudah tua rupanya
Tapi apa yang sekarang kurasakan?
Semakin hebat kah?
Atau, malah sebaliknya?

    Ya, 69 tahun usiamu
    Akankah kau samakan dengan usia
         manusia?
    Semakin tua semakin lemah?
    Semakin tua semakin renta?

Negriku yang kucintai
Semangatmu merupakan titik awal bagiku
Ku tak rela sesuatu yang buruk terjadi padamu
Berani dan suci membentang di cakrawalamu

          Ya, sekarang kau punya nahkoda yang baru
          Awak kapal yang baru
          Semangatmu, cinta tanah airku mengalir deras di nadiku
          Izinkan aku turut mengabdi padamu

Rabu, 29 Mei 2013

Parah

Mulut, ya semua orang punya itu. Tangan, ya... semua orang juga punya
Terus apa bedanya kau dengan mereka?
Katanya manusia itu sempurna, tapi apa nyatanya?
Mulut cuma untuk bicara-bicara hal yang tak berguna

           Mulut cuma untuk menggoreskan luka
           Ya, Diamlah itu lebih baik,
           Mengendapkan tetesan-tetesan darah dalam dada
           Menutup paksa semua luka yang ada

Semua itu memang tak berguna, Hanya buang-buang waktu saja
Memang, tulisanku tak bermakna
Tapi ini semua kuanggap karya paling sederhana
Hanya coretan-coretan luka yang menggerakkan pena
Membuahkan karya sastra walau hanya sekejap mata

Senin, 18 Februari 2013

Tetesan Air Mata

Duri tajam berlari di atas luka, mengorek-ngorek sisa asa yang ada
Mengalir darah segar menyilaukan mata, memerahkan hangatnya sukma
Diam, hanya diam yang ku lakukan, menatap sayu seperti tanpa dosa
Memalingkan wajah tanda putus asa. menutup hinanya mata

       Terdiam, terpaku tak berdaya
       Tetesan-tetesan darah itu
       Memberimu arti, arti bahwa rasa itu ada
       Rasa yang memuncak penuh makna menggenggam seisi dunia yang fana

Berdiri tegap bahwa aku bisa
Ya.. Mulutmu itu memang tajam
Bagaikan pedang sang pujangga
Tapi semua itu tak terasa karena aku adalah juara
 
Copyright 2009 Sulthony. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemesfree