Senin, 18 Agustus 2014

Kau Sekarang

Ah sudah tua rupanya
Tapi apa yang sekarang kurasakan?
Semakin hebat kah?
Atau, malah sebaliknya?

    Ya, 69 tahun usiamu
    Akankah kau samakan dengan usia
         manusia?
    Semakin tua semakin lemah?
    Semakin tua semakin renta?

Negriku yang kucintai
Semangatmu merupakan titik awal bagiku
Ku tak rela sesuatu yang buruk terjadi padamu
Berani dan suci membentang di cakrawalamu

          Ya, sekarang kau punya nahkoda yang baru
          Awak kapal yang baru
          Semangatmu, cinta tanah airku mengalir deras di nadiku
          Izinkan aku turut mengabdi padamu

Rabu, 29 Mei 2013

Parah

Mulut, ya semua orang punya itu. Tangan, ya... semua orang juga punya
Terus apa bedanya kau dengan mereka?
Katanya manusia itu sempurna, tapi apa nyatanya?
Mulut cuma untuk bicara-bicara hal yang tak berguna

           Mulut cuma untuk menggoreskan luka
           Ya, Diamlah itu lebih baik,
           Mengendapkan tetesan-tetesan darah dalam dada
           Menutup paksa semua luka yang ada

Semua itu memang tak berguna, Hanya buang-buang waktu saja
Memang, tulisanku tak bermakna
Tapi ini semua kuanggap karya paling sederhana
Hanya coretan-coretan luka yang menggerakkan pena
Membuahkan karya sastra walau hanya sekejap mata

Senin, 18 Februari 2013

Tetesan Air Mata

Duri tajam berlari di atas luka, mengorek-ngorek sisa asa yang ada
Mengalir darah segar menyilaukan mata, memerahkan hangatnya sukma
Diam, hanya diam yang ku lakukan, menatap sayu seperti tanpa dosa
Memalingkan wajah tanda putus asa. menutup hinanya mata

       Terdiam, terpaku tak berdaya
       Tetesan-tetesan darah itu
       Memberimu arti, arti bahwa rasa itu ada
       Rasa yang memuncak penuh makna menggenggam seisi dunia yang fana

Berdiri tegap bahwa aku bisa
Ya.. Mulutmu itu memang tajam
Bagaikan pedang sang pujangga
Tapi semua itu tak terasa karena aku adalah juara

Sabtu, 22 Desember 2012

Seberkas Cahaya

Terbujur kaku tak berdaya
Semua hitam, kelam dan hampa
Sesak kosong tak ada udara, terhalang oleh batu tak bermassa
Titik kecil di ujung kalbu terang benderang seperti cahaya

        Cahaya kecil tapi sangat bermakna
        Walau tak terlihat oleh mata
        Titik yang ada tapi tak tiada

Mata sayuku pun mulai menganga menatapnya
Terbuka lebar menganga tak berdosa
Tapi tak ada satupun yang peka terhadapnya

Selasa, 24 Juli 2012

Lembaran Baru

Bunga mawar berduri namun tetap mempesona
Tapi sayang, ia gugur tak pada waktunya
Bunga tetap gugur walau di musim semi
Mulai menghitam dan tak berbau lagi

          Aku ingat betul hari itu...
          Saat warna merah melukis khatulistiwaku
          Dan hijaunya alam menghias kalbuku
          Aku tak bisa berkata hanya diam membisu

Mungkin hanya sajak bernada
Bukan lagi coretan tinta
Yang menghiasi kertas putih milikku

Rabu, 13 Juni 2012

Lenyap

Cahaya itu redup lagi
Cahaya yang sudah lama bersinar terang
Telang hilang dari mataku
Dan mulai tergantikan

       Warna itu mulai kelam
       Dan terdiam tanpa kata
       Jam dinding pun tak lagi berdetak
       Hilang, lenyap tak tersisa

Kertas itupun memutih lagi
Coretan-coretan tinta mulai memudar
Menunggu tinta itu menari lagi,
Di atas kertas putihku
 
Copyright 2009 Sulthony. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemesfree